Selasa, 16 Maret 2010

Takhrij Hadist




BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Menelusuri hadist sampai kepada sumber asalnya tidak semudah menelusuri ayat al-Quran. Untuk itu, seorang peneliti hadist kegiatan Takhrijul-Hadist sangat penting. Tanpa dilakukan Takhrijul-Hadist terlebih dahulu, maka akan sulit diketahui asal-usul riwayat hadist yang akan diteliti, berbagai riwayat yang akan meriwayatkan hadist itu, dan ada atau tidak adanya koorborasi(syahid atau mutabi’) dalam sanad bagi hadist yang ditelitinya dan untuk membuktikan status hadist.
B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian Takhrijul-Hadist itu?
2. Apa saja yang menjadi penyebab perlunya kegiatan Takhrijul-Hadist?
3. Apa saja macam metode Takhrijul-Hadist?
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui dan memahami pengertian hadist baik secara bahasa maupun istilah.
2. Untuk mengetahui dan membuktikan sebab-sebab perlunya kegiatan Takhrijul-Hadist.
3. Untuk mengetahui dan memahami macam-macam metode Takhrijul-Hadist.


BAB I I

PEMBAHASAN
A. Pengertian
Takhrij menurut bahasa ialah mengeluarkan sesuatu dari tempatnya.[1] Sedangkan menurut Dr. Mahmud at tahhan ialah berkumpulnya dua perkara yang berlawanan pada sesuatu yang satu.[2]
Menurut istilah dan yang oleh ulama hadist kata at-takhrij mempunyai beberapa arti yakni:[3]
  1. Mengemukakan hadist kepada orang banyak dengan menyebutkan para periwayatnya dalam sanad yang telah menyampaikan hadist itu dengan metode periwayatan yang mereka tempuh.
  2. Ulama hadist mengemukakan berbagai hadist yang telah dikemukakan oleh para guru hadist ,atau berbagai kitab atau lainnya, yang susunannya dikemukakan berdasarkan riwayatnya sendiri, atau para gurunya, atau temannya, atau orang lain, dengan menerangkan siapa periwayatnya dari para penyusun kitab atau karya tulis yang dijadikan sumber pengambilan.
  3. Menunjukkan asal-usul hadist dan mengemukakan sumber pengambilannya dari berbagai kitab hadist yang disusun oleh para mukharrij-nya langsung (yakni para periwayat yang juga sebagai penghimpun bagi hadist yang mereka riwayatkan).
  4. Mengemukakan hadist yang berdasarkan sumbernya atau berbagai sumber,yakni berbagai kitab,yang didalamnya disertakan metode periwayatannya dan sanad-nya masing-masing, serta diterangkan keadaan para periwayatnya dan kualitas hadistnya.
  5. Menunjukkan atau mengemukakan letak asal hadist pada sumbernya yang asli, yakni berbagai kitab, yang didalamnya dikemukakan hadist itu secara lengkap dengan sanad-nya masing-masing;kemudian, untuk kepentingan penelitian, dijelaskan kualitas hadist yang bersangkutan.
Jadi dari pengertian-pengertian diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa at-takhrij menurut istilah ialah menunjukkan atau mengemukakan asal-usul hadist,sumber-sumber hadist, secara lengkap berdasarkan metode periwayatannya serta sanad-nya masing-masing yang dijadikan sumber pengambilan untuk kepentingan penelitian dan dijelaskan kualitas hadist yang bersangkutan.

B. Sebab-sebab Perlunya KegiatanTakhrijul-Hadist
Kegiatan takhrijul-hadist sangat penting dalam melaksanakan penelitian hadist.Berikut ini ada 4 yang menyebabkan perlunya kegiatan takhrijul-hadist:[4]
1. Untuk mengetahui asal-usul riwayat hadist yang akan diteliti.
Suatu hadist akan sangat sulit diteliti status dan kualitasnya bila terlebih tidak diketahui asal-usulnyaTanpa diketahui asal-usulnya,maka sanad dan matan hadist yang bersangkutan sulit diketahui susunannya menurut sumber pengambSuatu hadist akan sangat sulit diteliti status dan kualitasnya bila terlebih dahulu tidak diketahui asal-usuilannya.
2. Untuk mengetahui seluruh riwayat bagi yang akan diteliti
Hadist yang akan diteliti mungkin memiliki lebih dari satu sanad. Mungkin saja, salah satu satu sanad hadist itu berkualitas daif atau sahih.Untuk itu terlebih dahulu harus diketahui seluruh riwayat hadist yang bersangkutan.
3. Untuk mengetahui ada atau tidak adanya syahid dan mutabi’ pada sanad yang diteliti
Ketika hadist yang diteliti salah satu sanad-nya,mungkin ada periwayat lain yang sanad-nya mendukung pada sanad yang sedang diteliti. Dukungan (corroboration) itu bila terletak pada bagian periwayat tingkat pertama, yakni tingkat sahabat Nabi,disebut sebagai syahid, sedang bila terdapat di bagian bukan periwayat tingkat sahabat disebut sebagai mutabi’.
4. Untuk membuktikan status hadist[5]

C. Macam-macam Metode Takhrijul-Hadist
Macam-macam metode yang dipakai dalam kegiatan takhrijul-hadis ada dua macam yakni:[6]
a. Metode Takhrijul-Hadist Bil Lafz
Yaitu metode penelusuran hadist melalui lafadz.Hadist yang akan diteliti hanya diketahui bagian dari matannya saja,maka takhrij melalui penelusuran lafadz matan lebih mudah dilakukan. Untuk menggunakan metode ini diperlukan kitab sebagaimana akan dijelaskan di bawah ini:
            Kitab-kitab yang diperlukan
Untuk kepentingan takhrijul-hadist berdasarkan lafadz tersebut, selain diperlukan kitab kamus hadist, juga diperlukan kitab-kitab yang menjadi rujukan dari kitab kamus itu. Kitab kamus hadist yang termasuk agak lengkap adalah kitab susunan Dr.A.J.Wensinck dan kawan-kawannya yang diterjemahkan kedalam bahasa Arab oleh Muhammad fu’ad Abdul-Baqi dengan judul:
Kitab-kitab hadist yang menjadi rujukan kamus hadist ada 9,yakni Sahih al-Bukhari, Sahih Muslim, Sunan Abi Daud, Sunan at-Turmuzi, Sunan an-Nisa’i, Sunan Ibni Majah, Sunan ad-Darimi, Muatta’ Malik, dan Musnad Ahmad bin Hambal. Untuk hadist yang termuat diluar kesembilan kitab tersebut, perlu digunakan kamus lainnya yang merujuk kepada kitab yang bersangkutan.
Adapun Kemungkinan dari hasil Metode Takhrijul-Hadist bil lafz adalah sebagaimana berikut ini:
Setelah kegiatan takhrij dilakukan, mungkin belum semua riwayat telah dicakup, Untuk itu, hadist yang telah dilakukan-takhrij tadi, lafadz yang lain perlu dicoba dipakai untuk men-takhrij lagi. Dengan demikian akan dapat diketahui semua riwayat berkenaan dengan hadist yang ditelusuri tadi.
Semua lafadz dalam matn hadist telah dipakai sebagai acuan untuk melakukan kegiatan takhrij, tetapi hasilnya masih belum lengkap juga, maka dalam hal ini masih perlu dipakai kitab kamus hadist lainnya yang mungkin dapat melengkapinya.
Contoh:Umpama saja hadist yang diingat hanyalah bagian lafadz matn yang berbunyi
Dengan modal lafadz maka lafadz itu ditelusuri melalui halaman kamus lafadz . Setelah diperoleh, lalu dicari kata . Dibagian itu ada petunjuk bahwa hadist yang dicari memiliki sumber yang cukup banyak, yakni:
1. Sahih Muslim,kitab iman, nomor hadist 78.
2. Sunan Abi Daud, kitab shalat, bab 242; dan kitab malahim, bab 17.
3. Sunan at-Turmuzi, kitab fitan, bab 11.
4. Sunan an-Nisa’i, kitab iman, bab 17.
5. Sunan ibni majah, kitab iqamah, bab 155; dan kitab fitan, bab 20.
6. Musnad Ahmad bin Hambal, juz III, halaman 10, 20, 49,dan 52-53.
Apabila akan dilakukan penelitian, maka semua riwayat yang dikemukakan oleh keenam kitab diatas perlu dikutib secara cermat. Tentu saja, untuk menghindari adanya riwayat yang tidak tercakup, kegiatan takhrij dengan mengacu pada lafadz-lafadz yang lain yang terdapat dalam matn yang sama, perlu dilakukan.
b. Metode Takhrijul-Hadist bil Maudu’
Yaitu metode penelusuran hadist melalui topic masalah.Hadist yang akan diteliti tidak terikat pada bunyi lafadz matn hadist, tetapi berdasarkan topic masalah. Misalnya, topic masalah yang akan diteliti adalah hadist tentang kawin kontrak atau nikah mut’ah. Untuk menelusurinya, diperlukan bantuan kitab kamus ataupun semacam kamus yang dapat memberikan keterangan tentang berbagai riwayat hadist tentang topic tersebut.[7]
Adapun kitab-kitab yang diperlukan sebagaimana akan dijelaskan di bawah ini:
Sesungguhnya cukup banyak kitab yang menghimpun berbagai hadist berkenaan dengan topic masalah.Hanya saja, pada umumnya kitab-kitab tersebut tidak menyebutkan data kitab sumber pengambilannya secara lengkap. Dengan demikian, bila hadist-hadist yang bersangkutan akan diteliti, masih diperlukan penelusuran tersendiri.
Untuk saat ini,kitab kamus yang berdasarkan topic masalah yang relative agak lengkap adalah kitab susunan Dr.A.J.Wensincck dkk.yang berjudul:
Kitab-kitab yang menjadi rujukan kitab kamus tersebut ada 14 macam kitab,yakni kesembilan macam kitab yang menjadi rujukan sebagaimana telah dikemukakan diatas ditambah lagi dengan Musnad Zaid bin ‘Ali, Musnad Abi Daud at-Tayalisi, Tabaqat ibn Sa’ad, Sirah ibn Hisyam, dan Magazi al-Waqidi `
Maka kemungkinan hasil dari Metode Takhrijul-Hadist bil Maudu’nya adalah sebagaimana berikut ini:
Data yang dimuat oleh kitab Miftah tersebut memang sering tidak lengkap, begitu juga topic yang dikemukakannya. Walaupun begitu, kitab kamus tersebut cukup membantu untuk melakukan kegiatn takhrij hadist berdasarkan topic masalah. Untuk melengkapi data yang dikemukakan oleh kitab kamus itu,dapat dipakai sejumlah kitab himpunan hadist ynag disusun berdasarkan topic masalah, misalnya Muntakhab KanzilUmmal susunan ‘Ali bin Hisam ad-Din al-Mutqi, yang kitab rujukanya lebih dari dua puluh macam kitab.
Contoh: Untuk contoh topic berkenaan dengan nikah mut’ah itu, kamus Miftah Kunuzis-Sunnah mengemukakan data hadist yang bersumber pasa kitab-kitab antara lain Sahih al Bukhari, Sahih Muslim, Sunan Abi Daud, Sunan at-Turmuzi, Sunan anNasi’i, Sunan Ibni Majah, Sunan ad-Darimi, Muatta’ Malik, Musnad Ahmad, Musnad Abi Daud at-tayalisi, Musnad zaid bin ‘Ali dan Tabaqat IbnSa’ad.Pada masing-masing kitab dibubuhkan data tentang letak hadist yang bersangkutan.
Apabila seluruh hadist yang berkenaan dengan topic nikah mut’ah itu akan diteliti, maka terlebih dahulu seluruh riwayatnya harus dikutip secara cermat,baik sanad-nya maupun matn yang telah dikutip itu dapat dilakukan takhrij melalui lafadz


BAB III
KESIMPULAN
 Takhrij menurut bahasa ialah mengeluarkan sesuatu dari suatu tempat.Sedangkan Takhrij menurut istilah ialah menunjukkan atau mengemukakan asal-usul hadist, sumber-sumber hadist secara lengkap berdasarkan metode periwayatan serta sanad nya masing-masing yang dijadikan sumber pengambilan untuk penelitian dan dijelaskan kualitas hadist yang bersangkutan.
 Sebab-sebab perlunya kegiatan Takhrijul-Hadist
  1. Untuk mengetahui asal-usul riwayat hadist yang akan diteliti.
  2. Untuk mengetuhui seluruh riwayat bagi hadist yang akan diteliti.
  3. Untuk mengetahui ada atau tidak adanya syahid dan mutabi’pada sanad yang diteliti.
  4. Untuk membuktikan status hadist.
Macam-macam metode Takhrijul-Hadist:
a. Metode Takhrijul-Hadist bil lafadz yakni metode penelusuran hadist melalui lafadz.
b. Metode Takhrijul-Hadist bil maudu’ yakni metode penelusuran hadist melalui topic masalah.


DAFTAR PUSTAKA

§ Teungku Muhammad Hasbi Ash Shiddieqy , Sejarah Dan Pengantar Ilmu Hadist, PT. Pustaka Rizki, Semarang, 2009.
§ Syuhudi Ismail, Cara Praktis Mencari Hadist,Bulan Bintang, Jakarta,1991.
§ syuhudi Ismail, Metedologi Penelitian Hadist, Bulan Bintang, Jakarta 1990.
§ Husnan Ahmad, Kajian hadist metode tahrij, Pustaka Al Kautsar, Jakarta, 1993


[1]Teungku Muhammad Hasbi Ash Shiddieqy,sejarah dan pengarang ilmu hadist,PT. Pustaka Rizki Putra,Semarang,2009.,hal148
[2]Ibid. hal. 149
[3]Syuhudi ismail,metedologi penelitian hadist,Jakarta,1990,hal41
[4] Syuhudi Ismail, Metedologi Penelitian Hadist,Jakarta,1990,hal44
[5] Husnan Ahmad, Kajian hadist metode tahrij, Pustaka Al Kautsar, Jakarta, 1993.
[6] Syuhudi Ismail,Cara Praktis Mencari Hadist,jakarta,1990,hal
[7] Syuhudi Ismail, Ibid.

0 komentar:

Posting Komentar

Luangkan waktu Anda untuk menulis komentar untuk mempermudah merespon posting ini...

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More